Cahaya Hidayah

Hati, Ujian dan Kepatuhan

Author Archive

The Hour

without comments

By: Maged Taman

1- The hour knowledge is exclusive to God:

وَتَبَارَكَ الَّذِي لَهُ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا وَعِندَهُ عِلْمُ السَّاعَةِ وَإِلَيْهِ تُرْجَعُونَ (43:85)
43:85 (Picktall) And blessed be He unto Whom belongeth the Sovereignty of the heavens and the earth and all that is between them, and with Whom is knowledge of the hour, and unto Whom ye will be returned.

2- The hour is coming no doubt about it:

إِنَّ السَّاعَةَ ءاَتِيَةٌ أَكَادُ أُخْفِيهَا لِتُجْزَى كُلُّ نَفْسٍ بِمَا تَسْعَى (20:15)
20:15 (Picktall) Lo! the hour is surely coming. But I will to keep it hidden, that every soul may be rewarded for that which it striveth (to achieve).

وَأَنَّ السَّاعَةَ آتِيَةٌ لَّا رَيْبَ فِيهَا وَأَنَّ اللَّهَ يَبْعَثُ مَن فِي الْقُبُورِ (22:7)
22:7 (Picktall) And because the hour will come, there is no doubt thereof; and because Allah will raise those who are in the graves.

إِنَّ السَّاعَةَ لَآتِيَةٌ لَّا رَيْبَ فِيهَا وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يُؤْمِنُونَ (40:59)
40:59 (Picktall) Lo! the hour is surely coming, there is no doubt thereof; yet most of mankind believe not.

بَلِ السَّاعَةُ مَوْعِدُهُمْ وَالسَّاعَةُ أَدْهَى وَأَمَرُّ (54:46)
54:46 (Picktall) Nay, but the hour (of doom) is their appointed tryst, and the hour will be more wretched and more bitter (than their earthly failure).

3- The hour is a very great event:

يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمْ إِنَّ زَلْزَلَةَ السَّاعَةِ شَيْءٌ عَظِيمٌ (22:1)
22:1 (Picktall) O mankind! Fear your Lord. Lo! the earthquake of the hour (of Doom) is a tremendous thing.

4- Some of the disbelievers looked at the hour in doubt:

وَإِذَا قِيلَ إِنَّ وَعْدَ اللَّهِ حَقٌّ وَالسَّاعَةُ لَا رَيْبَ فِيهَا قُلْتُم مَّا نَدْرِي مَا السَّاعَةُ إِن نَّظُنُّ إِلَّا ظَنًّا وَمَا نَحْنُ بِمُسْتَيْقِنِينَ (45:32)
45:32 (Picktall) And when it was said: Lo! Allah’s promise is the truth, and there is no doubt of the hour’s coming, ye said: We know not what the hour is. We deem it

5- For their arrogance some of the disbelievers call to God to bring the hour soon:

يَسْتَعْجِلُ بِهَا الَّذِينَ لَا يُؤْمِنُونَ بِهَا وَالَّذِينَ آمَنُوا مُشْفِقُونَ مِنْهَا وَيَعْلَمُونَ أَنَّهَا الْحَقُّ أَلَا إِنَّ الَّذِينَ يُمَارُونَ فِي السَّاعَةِ لَفِي ضَلَالٍ بَعِيدٍ (42:18)
42:18 (Picktall) Those who believe not therein seek to hasten it, while those who believe are fearful of it and know that it is the Truth. Are not they who dispute, in doubt concerning the hour, far astray?

6- Some of the disbelievers categorically denied the hour:

وَقَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا لَا تَأْتِينَا السَّاعَةُ قُلْ بَلَى وَرَبِّي لَتَأْتِيَنَّكُمْ عَالِمِ الْغَيْبِ لَا يَعْزُبُ عَنْهُ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ فِي السَّمَاوَاتِ وَلَا فِي الْأَرْضِ وَلَا أَصْغَرُ مِن ذَلِكَ وَلَا أَكْبَرُ إِلَّا فِي كِتَابٍ مُّبِينٍ (34:3)
34:3 (Picktall) Those who disbelieve say: The hour will never come unto us. Say : Nay, by my Lord, but it is coming unto you surely. (He is) the Knower of the Unseen. Not an atom’s weight, or less than that or greater, escapeth Him in the heavens or in the earth, but it is in a clear Record, -

7- Some disbelievers think even if there is an hour that they do not believe in they will do very well anyway:

وَلَئِنْ أَذَقْنَاهُ رَحْمَةً مِّنَّا مِن بَعْدِ ضَرَّاء مَسَّتْهُ لَيَقُولَنَّ هَذَا لِي وَمَا أَظُنُّ السَّاعَةَ قَائِمَةً وَلَئِن رُّجِعْتُ إِلَى رَبِّي إِنَّ لِي عِندَهُ لَلْحُسْنَى فَلَنُنَبِّئَنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا بِمَا عَمِلُوا وَلَنُذِيقَنَّهُم مِّنْ عَذَابٍ غَلِيظٍ (41:50)
41:50 (Picktall) And verily, if We cause him to taste mercy after some hurt that hath touched him, he will say: This is my own; and I deem not that the hour will ever rise, and if I am brought back to my Lord, I surely shall be better off with Him–But We verily shall tell those who disbelieve (all) that they did, and We verily shall make them taste hard punishment. -

وَمَا أَظُنُّ السَّاعَةَ قَائِمَةً وَلَئِن رُّدِدتُّ إِلَى رَبِّي لَأَجِدَنَّ خَيْرًا مِّنْهَا مُنقَلَبًا (18:36)
18:36 (Picktall) I think not that the hour will ever come, and if indeed I am brought back unto my Lord I surely shall find better than this as a resort. -

8- The signs of hour already came: the last messenger Muhammad is a sign that the hour is approaching and many signs around us now:

فَهَلْ يَنظُرُونَ إِلَّا السَّاعَةَ أَن تَأْتِيَهُم بَغْتَةً فَقَدْ جَاء أَشْرَاطُهَا فَأَنَّى لَهُمْ إِذَا جَاءتْهُمْ ذِكْرَاهُمْ (47:18)
47:18 (Picktall) Await they aught save the hour, that it should come upon them unawares? And the beginnings thereof have already come. But how, when it hath come upon them, can they take their warning? -

9- Jesus is a sign of the hour:

وَإِنَّهُ لَعِلْمٌ لِّلسَّاعَةِ فَلَا تَمْتَرُنَّ بِهَا وَاتَّبِعُونِ هَذَا صِرَاطٌ مُّسْتَقِيمٌ (43:61)
43:61 (Picktall) And lo! verily there is knowledge of the hour. So doubt ye not concerning it, but follow Me. This is the right path.

10- When the Hour comes upon them the disbelievers will be in regret and confusion:

وَيَوْمَ تَقُومُ السَّاعَةُ يُبْلِسُ الْمُجْرِمُونَ (30:12)
30:12 (Picktall) And in the day when the hour riseth the righteous will despair.

وَيَوْمَ تَقُومُ السَّاعَةُ يَوْمَئِذٍ يَتَفَرَّقُونَ (30:14)
30:14 (Picktall) In the day when the hour cometh, that day they will be sundered.
Ar-Rum (The Romans)

وَيَوْمَ تَقُومُ السَّاعَةُ يُقْسِمُ الْمُجْرِمُونَ مَا لَبِثُوا غَيْرَ سَاعَةٍ كَذَلِكَ كَانُوا يُؤْفَكُونَ (30:55)
30:55 (Picktall) And on the day when the hour riseth the guilty will vow that they did tarry but an hour– thus were they ever deceived.

وَلَا يَزَالُ الَّذِينَ كَفَرُوا فِي مِرْيَةٍ مِّنْهُ حَتَّى تَأْتِيَهُمُ السَّاعَةُ بَغْتَةً أَوْ يَأْتِيَهُمْ عَذَابُ يَوْمٍ عَقِيمٍ (22:55)
22:55 (Picktall) And those who disbelieve will not cease to be in doubt thereof until the hour come upon them unawares, or there come unto them the doom of a disastrous day.

وَلَلَّهِ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرضِ وَيَومَ تَقُومُ السَّاعَةُ يَوْمَئِذٍ يَخْسَرُ الْمُبْطِلُونَ (45:27)
45:27 (Picktall) And unto Allah belongeth the Sovereignty of the heavens and the earth; and on the day when the hour riseth, on that day those who follow falsehood will be lost.

قَدْ خَسِرَ الَّذِينَ كَذَّبُواْ بِلِقَاء اللّهِ حَتَّى إِذَا جَاءتْهُمُ السَّاعَةُ بَغْتَةً قَالُواْ يَا حَسْرَتَنَا عَلَى مَا فَرَّطْنَا فِيهَا وَهُمْ يَحْمِلُونَ أَوْزَارَهُمْ عَلَى ظُهُورِهِمْ أَلاَ سَاء مَا يَزِرُونَ (6:31)
6:31 (Picktall) They indeed are losers who deny their meeting with Allah until, when the hour cometh on them suddenly, they cry: Alas for us, that we neglected it! They bear upon their back their burdens. Ah, evil is that which they bear!

Written by aferiza

December 22, 2009 at 1:58 am

Posted in Al Quran, Ilmu

NGO wanita Islam perlu bersatu perjuangkan isu semasa

without comments

Oleh Hasliza Hassan

PERTUBUHAN bukan kerajaan (NGO) wanita Islam perlu bersatu supaya pendirian mereka dapat disuarakan dengan lantang serta diberi perhatian dalam memperjuangkan isu semasa berkaitan kepentingan umat Islam terutama membabitkan kebajikan wanita.

Pengerusi Majlis Perunding Wanita Islam Malaysia (MPWIM) Yayasan Dakwah Islamiah Malaysia (Yadim), Profesor Emeritus Datuk Dr Nik Safiah Karim, berkata kesepakatan antara semua NGO wanita Islam membolehkan tindakan serta pandangan mereka disuarakan secara bersepadu.

Katanya, hubungan akrab dengan media massa juga perlu dipertingkatkan bagi membuka ruang untuk NGO wanita Islam berkongsi pandangan atau pendirian dengan masyarakat umum serta menghebahkan aktiviti dianjurkan demi kepentingan bersama.

“Tidak dinafikan NGO wanita Islam banyak serta ada yang terkenal, tetapi disebabkan tidak ada kesepakatan, apabila timbul isu membabitkan Islam, ia nampak seolah-olah tidak ada kenyataan yang lantang daripada NGO wanita Islam.

“Sebenarnya semua NGO buat kerja dan menyumbang, cuma apabila kita bertindak secara sendirian maka apa yang dilakukan tidak nampak ketara. Lagi satu, tindakan kita tidak dihebahkan di media massa,” katanya.

Beliau yang ditemui pada Majlis Wehdatul Fikr Pertubuhan-Pertubuhan Wanita Islam anjuran Yadim, baru-baru ini berkata, pertemuan kira-kira 23 NGO wanita Islam pada majlis itu diharap dapat menghasilkan satu kesepakatan yang akan mengukuhkan peranan mereka memartabatkan Islam

dalam pelbagai bidang.

Nik Safiah berkata, cadangan supaya setiap NGO berkongsi maklumat mengenai aktiviti yang dijalankan turut mendapat perhatian dalam usaha meningkatkan kerjasama dan semangat saling bantu membantu.

Katanya, perkongsian pintar itu juga membolehkan setiap program dirancang dengan lebih berkesan berdasarkan kepada keperluan supaya dapat memenuhi kehendak dan memberi manfaat kepada kumpulan sasar. Read the rest of this entry »

Written by aferiza

December 22, 2009 at 1:49 am

Posted in Current Issues

minta tolong dengan sabar dan sholat

without comments

oleh; http://akhwatfillah.wordpress.com

al-baqarah-45-46.jpg

45- Dan mintalah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan (mengerjakan) salat. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk,

46- (yaitu) orang-orang yang meyakini, bahwa mereka akan menemui Tuhannya, dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya. (Al Baqarah 45-46)

Sepanjang hidup kita selalu didera berbagai kesukaran dan kesulitan hidup. Kita harus berjuang menempuh berbagai kesulitan dan kesukaran untuk mendapatkan berbagai hal yang kita inginkan. Tidak ada kenikmatan dan kegembiraan yang datang begitu saja tanpa perjuangan. Semua harus ditebus dengan perjuangan,pengorbanan, kelelahan dan berbagai hal yang tidak menyenangkan. Itulah kehidupan. Suka tidak suka, kita sudah hidup didunia ini. Kita harus berani menempuhnya.

rmh-kumuh.jpg

Banyak manusia yang tidak tahan menghadapi berbagai penderitaan dan kesulitan mempertahankan hidup atau mendapatkan berbagai hal yang diinginkan. Putus asa…. kecewa… tertekan…. akhirnya bunuh diri dengan berbagai cara.

Sikap manusia dalam menghadapi berbagai masalah ada dua macam:

  1. Fight… berjuang dengan ulet, sabar dan tangguh sampai masalah dapat diatasi
  2. Flight… lari, meninggalkan masalah, namun ia akan berhadapan dengan masalah lain, lari lagi… ketemu masalah baru…… lari lagi….. akhirnya ia dikepung masalah… tidak ada jalan keluar… putus asa… akhirnya bunuh diri.

Dalam pesan singkat yang tercantum  dalam al Qur’an surat al Baqarah ayat 45 -46 Allah mengingatkan 3 hal dalam menghadapi dan  menyelesaikan berbagai masalah kehidupan:

1.      Minta tolong pada Allah dengan sabar dan sholat

2.      Sholat memang berat kecuali bagi orang yang khusuk

3.     Yaitu orang yang yakin akan menemui Allah dan akan kembali padaNya.

Rasulullah mengatakan :”Sholat adalah tiang agama”, dalam arti yang lebih luas sebenarnya sholat itu adalah tiang kehidupan bagi kita masing masing. Bagunan rumah akan ambruk dan runtuh jika tiangnya tidak kokoh. Apalagi jika tiang nya tidak ada. Rumah tidak mungkin ditegakan tanpa tiang yang menyokongnya. Orang yang khusuk dan benar sholatnya pasti akan mendapat kehidupan yang mudah. Ia dapat mengatasi berbagai masalah hidupnya dengan sholat.

Kalau sholat dapat menjadikan hidup jadi mudah, mengapa banyak orang yang sholat tapi hidupnya tetap dalam kesulitan, kesukaran dan pederitaan yang berkepanjangan? Banyak orang yang tidak sholat , hidupnya mudah dan berlimpah.  Hidup mewah, berlimpah harta bukanlah ukuran kebahagiaan.Banyak hal yang tidak bisa diatasi dengan harta dan uang berlimpah. Banyak orang yang hidup mewah berlimpah harta namun hidupnya tertekan, kecewa, gelisah.

Allah menjamin kehidupan orang yang sholat dengan benar dan khusuk sebagai disebutkan dalam surat al Mukminun ayat 1 ” Telah mendapat kemenangan orang yang beriman, yaitu orang yang khusuk dalam sholatnya ” . Dengan sholat yang khusuk dan benar hidup jadi mudah dan lapang. Walau secara dhohir hidupnya pas pasan, sederhana, kadang dibawah garis kemiskinan, namun hatinya merasa bahagia, berkecukupan dan penuh kelimpahan. Jauh dari rasa tertekan, gelisah dan stress berkepanjangan.

Rasa bahagia, berkelimpahan, selalu dalam kecukupan ini hanya dimiliki oleh orang yang yakin bahwa ia akan menemui Allah, dan yakin bahwa kita semua akan kembali kepadaNya. Orang ini tidak takjub dan kagum dengan kehidupan dunia. Dunia hanya tempat singgah sementara, kehidupan sementara yang tidak kekal. Dunia tempat mengumpulkan perbekalan untuk kehidupan abadi diakhirat kelak. Hidup yang sebenarnya adalah kehidupan akhirat.

rmh-mewah.jpg

Sebaliknya orang yang menganggap dunia sebagai kehidupan yang utama, dunia adalah segala galanya baginya. Dia tidak yakin pada Allah dan kehidupan akhirat. Orang itu tidak akan pernah merasakan kebahagiaan. Ia akan dipermainkan oleh kehidupan dunia, ia akan lelah dan letih mengejar dunia yang tidak pernah terpuaskan. Walaupun secara dhohir hidupnya berlimpah harta dan kemewahan, semua itu tidak akan menentramkan hatinya. Ia selalu merasa hidup dalam kekurangan.

Waspadalah jangan tertipu kehidupan dunia. Mintalah pertolongan kepada Allah dengan  sabar dan  sholat. Orang yang yakin bersama Allah pasti mendapat kemenangan. Jangan minta tolong kepada selain Allah. Jangan minta tolong pada paranormal, perdukunan dan perbuatan musyrik lainnya. Jangan percaya pada kekuatan azimat, benda keramat, benda pusaka dan benda bertuah lainnya. Mintalah pertolongan hanya pada Allah, dan bersabarlah menunggu keputusanNya

Written by aferiza

December 20, 2009 at 1:00 pm

Posted in Akhlak

Giving Priority to the Quran

without comments

from: I LOVE ALLAH’s Notes

Hudhayfah said: The Messenger of Allaah (sallallaahu `alayhi wa sallam) related matters to us. I have seen one of them, and I am waiting for the other. He (sallallaahu `alayhi wa sallam) informed us: “Trustworthiness was sent down in depths of the heart of the people, then they learnt it from the Qur’aan, then they learnt it from the Sunnah” (2)

Al-Haafidh Ibn Hajar (852H) said: “His (`azza wa jall) saying: ‘then they learnt it from the Qur’aan, then they learnt it from the Sunnah’ So it occurs in this narration with the repetition of “then”, which contains and indication that they would learn the Qur’aan before learning the details of the sunnah. And what is meant by the details of the sunnah is anything that they would learn from Prophet (saallallaahu `alayhi wa sallam) whether it was obligatory or recommended.” (3)

Al-Maymoonee said: I asked Abu ‘Abdullaah Imaam Ahmed which is more beloved to you, that I should I begin teaching my son the Qur’aan or the hadeeth He said: “No! The Qur’aan.” I said: Shall I teach him all of it? He replied: “Unless that is difficult, in which case teach him some of it.” Then. he said to me: “If he begins reciting first, then he will learn correct recitation and will persevere in it.” (4)

Ibn Muflih said: “Upon this are the followers of Imaam Ahmad right up until our time.”(5)

Ibn Taymiyyah (d. 718H) said: “As for seeking to memorize the Qur’aan then this is to be given preference over many of the things that the people consider to be knowledge, but are -in reality – either totally useless, or having little benefit. It is also to be given precedence in learning especially by those who wish to acquire knowledge of the Deen, its principles and its particulars. Since what is prescribed for such a person at this time is that he should begin by memorizing the Qur’aan, as it is the foundation of the branches of knowledge of the deen. This is contrary to what is done by many of the people on innovation, in that one of them will preoccupy himself with superfluous parts of knowledge; such as kalaam (rhetorical speech) and argumentation; or very rare matters of differences; and blind following, which there is no need for; or very strange and rare ahaadeeth which are not established, nor of benefit; and many discussions do not establish proofs. And he abandons memorizing the Qur’aan which is more important than all of this.” (6)

Muhammad ibn al-Fadl said: “I heard my grandfather say: I asked my father for permission to study under Qutaybah, so he said: “First learn the Qur’aan and then I will give you permission.” So I memorized the Qur’aan by heart. Then he said to me: “Remain until you have led the people in prayer with it (i.e. for taraweeh prayer).” So I did so, and after the “eed prayer he gave me permission, so I left for Marw.” (7)

Ibn ‘Abdul-Barr (d. 463H) said: “Seeking knowledge is of levels and is of different stages which should not be skipped over. Whoever skips over them altogether, then he has overstepped the path of the Companions and those that follow them. Whoever deliberately takes a path other than this has seriously deviated. However, whoever oversteps due to an ijtihaad (a knowledge-based judgment that a qualified scholar makes, intending to reach the truth), then such a person has erred So the first knowledge is memorization of the Book of Allaah and seeking to understand it. And it is obligatory to seek everything which will aid in understanding it. However, I do not say that it is obligatory to memorize all of the Qur ‘aan but I do say that it is obligatory and essential for anyone who wishes to become a scholar – not that it is something obligatory in itself.” (8)

Al-Khateeb al-Baghdaadee (d. 463H) said: “It is fitting for a student that he begins with memorization of the Book of Allaah -since it is the greatest of the branches of knowledge and that which should be placed first and given precedence.” (9)

Al-Haafidh an-Nawawee (d. 676H) said: “The first thing he should begin with-is memorization of the mighty Qur’aan, which is the most important of the branches of knowledge. And the Companions and those that follow them did not use to teach hadeeth or fiqh except to one who had memorized the Qur’aan When he has memorized it, let him beware of preoccupying himself from it with hadeeth, fiqh or other things, to the extent that it leads him to forget anything of the Qur’aan, or makes that likely.” (10)

Seeking knowledge in due Amounts

(11)

Allaah (`azza wa jall) said: “And it is a Qur’aan which We have divided into parts, in order that you may recite it to men at intervals. And We have sent it down in stages.” (12)

The Prophet sallallaahu `alayhi wa sallam said to `Abdullaah ibn `Amr ibn al-`Aas: “Read the Qur’aan in every month.” I said: I find that I have more strength than that. He (sallallaahu `alayhi wa sallam) said: “Recite it in every twenty nights.” I said: I find that I have more strength than that. He (sallallaahu `alayhi wa sallam) said:“Then recite it in every seven days and do not increase upon that.” (13)

‘Abdullaah ibn ‘Amr ibn al-’Aas also related from the Prophet (sallallaahu `alayhi wa sallam) that he said: “He does not understand the Qur’aan who recites it in less than three days” (14)

Umar ibn ‘Abdul-Waahid, a companion of al-Awzaa’ee said: We read in al-Muwattaa to Maalik (d. 179H) in forty days, so he said: “A book that took me forty years to compile, you take from me in forty days! How little you understand of it.” (15)

Al-Khateeb al-Baghdaadee said: “It is fitting that he takes care in acquiring knowledge and that he should not take too much in one go. Rather, he should take a little at a time, such that he can bear it., memorize it and be able to understand it. Because Allaah says which means: “And those who disbelieve say: Why is the Qur’aan not send down to him all at once? Thus (is it sent down in parts) that We may strengthen your heart thereby. And We have revealed it to you gradually, in stages.(“16″) (17)

Al-Khateeb also said: “And know that the heart in an organ from the organs. It is able to bear somethings and unable to bear others—just like the rest of the body. Thus, some people are able to carry one-hundred pounds, whereas others are unable to carry even twenty. Some people are able to walk a number of miles in a day without tiring, whereas others are unable to even walk a mile a day before they become tired… So let each person limit himself to what he is able without expending all his energies, because that will better aid him in learning with a good mind, from a firm and proficient teacher.” (18)

Supplicating for an Increase in Knowledge

(19)

Allaah (`azza wa jall) said which means: “Say: My Lord! Increase me in knowledge.” (Soorah TaaHaa 20:114)

Umm Salamah said: Allaah’s Messenger (sallallaahu `alayhi wa sallam) used to supplicate in the morning prayer: “O Allaah! I ask you for beneficial knowledge, righteous action and pure sustenance.” (20) Anas bin Maalik (be) said: I heard Allaah’s Messenger (sallallaahu `alayhi wa sallam) supplicate: “O Allaah! Benefit me with knowledge. Teach me that which will benefit me, and provide me with knowledge from which I can derive benefit.” (21)

Abu Bakr Muhammad ibn Ja’far said: I heard Ibn Khuzaymah (d. 311H) being asked:From where did you acquire this knowledge? So he said: “Allaah’s Messenger (sallallaahu `alayhi wa sallam) said: “Zam-zam water is that for which it is drunk.” (22) So when I drunk zam-zam water, I supplicate to Allaah for beneficial knowledge.” (23)

Shaykhul-lslaarn Ibn Taymiyyah said: (24) “The reality of this matter that the servant differs in what he asks of knowledge and guidance, and of what he seeks to ask. So with remembrance of Allaah and turning towards Him, Allaah guides such a person—as He said which means: “O My servants! All of you are misguided, except whomsoever I guide. So seek your guidance from Me.” (25)

And as the Prophet (sallallaahu `alayhi wa sallam) used to say: “O Allaah! Lord of Jibreel, Meekaa ‘eel and Israafeel. The Originator of the heavens and the earth. Knower of the Unseen and the apparent. You judge between Your servant in that which he differs. So guide me in that which I differ from the truth—by Your permission. Indeed, You guide whomsoever You please, to a Path that is straight.” (26)

By: Shaykh Abu Anas Hamad al-`Uthmaan [1]
Source

Foot Notes:

1. From An-Nubadh fee Aadaabit-Talabil-’ilm (pp.61-66), slightly abridged.
2. Related by al-Bukhaaree (no. 7086)
3. Fathul-Baaree (13/39)
4. Related by Ibn Muflih in Al-Aadaabush-Shar’iyyah.
5. Related by Ibn Abee Ya’laa in Tabaqaatul-Hanaabilah (1/41).
6. Fataawaa al-Kubra (2/54-55).
7. Related by adh-Dhahabee in Tadhkiratul-Huffaadh (2/722).
8. Jaami’ Bayaanul-’llm wa fadlihi (pp. 526-528)
9. Al-Jaami’ li-Akhlaaqir-Raawee wa Aadaabis-Saami’(1/106).
10. From the introduction to Al-Majmoo’ Sharhul-Muhadhhab (1/38)
11. From An-Nubadh (pp.67-69)
12. Soorah al-lsraa 17:106.
13. Related by al-Bukhaaree (no. 5052) and Muslim (no. 1159) and the wording is from Muslim).
14. Saheeh: related by Abu Daawood in his Sunan (no. 1394) and it was authenticated by al-Albaanee in Saheeh Sunan Abee Daawood (no. 1294). 15. Related by Ibn ‘Abdul-Barr in at-Tawheed (1/77)
16. Soorah al-Furqaan 25:32.
17. Al-Faqeeh wal-Mutafaqqih (2/101).
18. Al-Fapeeh wal-Mutafaqqih (2/107).
19. An-Nubadh (pp. 97-99).
20. Hasan: related by Ahmad (6/305) and atTiyaalasee (p.224). It was authenticated by al-Haafidh Ibn Hair in Nataa’ijul Aflkaar (2/313).
21. Related by Haakim (1/510) and he said: “It is authentic upon the condition of Muslim.” Adh-Dhahabee also agreed.
22. Related by adh-Dhahabee in Tadhkiratul-Huffaadh (2/721).
23. Hasan: It has been narrated by many different ways. Refer to all- Maqasidu lHasanah ( 928) of as-Sakhawi for its authentication and sources.
24. Majmoo`ul fataawaa (4/39)
25. Related by Muslim (no. 2577) form Abu Dharr.
26. Related by Muslim (no. 770) from `Aaishah.

  • Click Here to join our Project of “Download Quran”!
  • Written by aferiza

    December 20, 2009 at 11:34 am

    Posted in Al Quran

    Mengapa Saya Keluar Dari Syiah?

    without comments

    oleh: http://hafizfirdaus.com

    Judul Asal : Lillahi Tsumma Li at-Tharikh (Untuk Allah Kemudian Untuk Sejarah)
    Judul Buku : Mengapa Saya Keluar Dari Syiah?
    Penulis : Sayid Husain al-Musawi
    Penerbit : CV. Pustaka al-Kautsar, Jakarta Timur,August 2002
    Pengedar : Pustaka Indonesia, Wisma Yakin, Kuala Lumpur.

    ——————————————————-

    Peristiwa di mana Ulama’-Ulama’ besar Syi’ah keluar dari aliran sesat ini memang sudah tidak asing lagi malah ada di antara mereka yang disembelih dan dicincang mayat mereka setelah mereka secara terbuka bertaubat dari fahaman sesat lagi merbahaya ini.

    Antara tokoh-tokoh Syi’ah yang bertaubat adalah Ayatullah Uzhma Imam Sayid Abul Hassan al-Asfahani, Sayid Ahmad al-Kasrawi, al-Allamah Sayid Musa al-Musawi, Sayid Ahmad al-Katib, Abu al-Fadhl al-Burqui dan lain-lain lagi.

    Buku yang sedang diulas ini adalah berkenaan dengan Sayid Hussain al-Musawi seorang mujtahid dari alirang Syiah yang kemudiannya mengumumkan secara terbuka bahawa beliau bertaubat dari aliran sesat ar-Rafidhah ini dan beliau mendetailkan bukti-bukti kesesatan Syi’ah yang diambil dari kitab-kitab muktabar mereka sendiri.

    Sayid Hussain al-Musawi dilahirkan di Karbala dan mendapat pendidikan di kota ilmu (hauzah) di Najaf. Beliau telah lulus dengan cemerlang di situ dan dianugerahkan derajat Ijtihad oleh tokoh besar Ulama’ Syi’ah iaitu Sayid Muhammad Hussain Ali Kasyif al-Ghita.

    Selama masa beliau mendalami kitab-kitab Syi’ah ketika pengajian beliau selalu menjadi bingung dengan percanggahan yang begitu banyak terdapat dalam kitab-kitab muktabar ajaran Syi’ah. Tapi beliau cuba menyedapkan hati beliau dengan menyatakan kepada diri beliau sendiri sebagai seorang yang buruk pemahaman dan sedikit ilmu. Pernah beliau melontarkan keraguan beliau kepada salah seorang tokoh di Hauzah dan tokoh itu hanya menjawab “jauhkanlah keraguan itu dari dirimu, kamu adalah pengikut Ahlul Bait AS, sedangkan ahlul bait menerimanya (agama syiah) dari Muhammad SAW, dan Muhammad SAW menerimanya dari Allah SWT.” Beliau merasa tenang sebentar namun perasaan berkecamuk antara kebenaran dan kebathilan syiah sentiasa bermain di jiwa beliau. Semakin mendalam pengajian beliau semakin banyak permasalahan timbul dan semakin bergelora perang batin dalam jiwa beliau. Setelah tamat pengajian di Hauzah perang batin dalam jiwa beliau berterusan.

    Setelah lama merenung keadaan ini maka beliau mengambil keputusan untuk melakukan kajian yang komprehensif dan mengkaji ulang seluruh materi pelajaran yang pernah beliau dapatkan. Beliau membaca sebanyak mungkin referensi pegangan serta kitab-kitab Syi’ah. Segala kebingungan atau percanggahan beliau tuliskan dalam lembaran-lembaran kertas dan beliau simpan semoga pada suatu hari Allah menetapkan satu keputusan. Peristiwa al-Allamah Sayid Musa al-Musawi dan Sayid Ahmad al-Katib dua tokoh besar Syi’ah yang bertaubat dan kembali kepada Ahlus Sunnah Wal Jamaah seolah-olah menjadi petunjuk bagi beliau bahawa masanya juga sudah tiba untuk beliau mengistihar keluar dari fahaman yang sesat ini. Beliau berpendapat kini giliran beliau sudah tiba untuk menyatakan kebenaran untuk menyelamatkan rakan-rakan beliau yang telah tertipu. Bagi beliau sebagai seorang ulama adalah tanggungjawab beliau untuk menjelaskan kebenaran walaupun ianya sungguh pahit untuk ditelan.

    Maka Sayid Hussain al-Musawi pun mengarang sebuah buku yang membongkar kesesatan-kesesatan Syi’ah. Yang menariknya tentang buku ini adalah beliau menggunakan sumber Syi’ah sendiri untuk membongkarkan konspirasi musuh-musih Islaam untuk melemahkan Islaam dari dalam seperti musuh dalam selimut. Antara topik menarik yang beliau kupaskan adalah seperti berikut :

    a) Abdullah Ibnu Saba’ satu individu fiktif/rekaan yang dicipta oleh Ahlu Sunnah Wal Jamaah dalam rangka untuk memburukkan Syi’ah. benarkah begitu? Apa kata sumber Syi’ah sendiri mengenai Abdullah Ibnu Saba.

    b) Kata-kata kecaman dari kalangan Ahlul Bait sendiri terhadap Syi’ah. Beliau telah menurunkan kata-kata kecaman dari Saidina Ali RA, Saidatina Fathimah RA, Al-Hassan RA, al-Hussain RA dan Imam-Imam dari kalangan Ahlul Bait terhadap Syi’ah. Benarkah Syi’ah ini pembela Ahlul Bayt atau mereka sebenarnya pemusnah/penghina Ahlul Bait? Kita lihat sendiri Riwayat-riwayat syi’ah yang menghina Rasulullah SAW dan Ahlul Baitnya. Apakah kaitan Syi’ah di Kufah dengan tragedi pembunuhan Saidina Hussain RA? Kesemuanya riwayat-riwayat tentang hal ini di ambil dari sumber syi’ah sendiri!

    c) Sayid Hussain al-Musawi juga membongkarkan bagaimana Syi’ah menghalalkan perzinaan dengan menggunakan Nikah Mut’ah, bagaimana perempuan diperlakukan sebagai objek memuaskan hawa nafsu atas nama Mut’ah. Sungguh menjijikan sekali. Yang paling menggemparkan kisah Nikah Mut’ah Ayatollah Khomeini al-Musawi dengan kanak-kanak bawah umur dan apakah pandangan Ulama’ syi’ah akan hal ini? Bagaimana pula melakukan adengan Homoseks dengan kanak-kanak lelaki yang masih belum tumbuh janggutnya dan kumisnya. Beliau juga membawa Riwayat dari Amirul Mukminin Saidina Ali RA yang menyatakan bahawa Mut’ah telah diharamkan pada hari Khaibar. Semua pendedahan ini diambil dari sumber Syi’ah sendiri!

    d) Bagaimana Harta Khumus (1/5 bahagian untuk Ahlul Bayt) telah dipergunakan untuk kemewahan Ulama’-Ulama
    Syi’ah.

    e) Apakah pandangan mereka tentang al-Quraan? Adakah al-Quraan yang ada pada kita hari ini lengkap? Wujudkah al-Quraan yg lain selain dari apa yang kita baca hari ini?

    f) Apakah pandangan Syi’ah terhadap Ahlus Sunnah Wal Jamaah. Siapakah yang berkata kalimah ini, “Mereka (ASWJ) adalah orang-orang kafir yang najis berdasarkan Ijma’ ulama’ Syi’ah Imamiyah. Mereka lebih jahat dari Yahudi dan Nasrani.”?

    g) Pengaruh Yahudi, Majusi dan lain-lain dalam Syi’ah

    h) al-Qaim (Imam Mahdi) menurut Riwayat Syi’ah yang menyerupai watak Dajjal dan banyak lagi perkara-perkara yang menggemparkan. Kesemuanya diambil dari sumber rujukan Syi’ah sendiri.

    Insya-Allah buku ini amat berguna sekali untuk mereka yang telah terpengaruh dengan Mazhab Ahlul Bait / Syi’ah di Malaysia ini dan juga untuk kita yang mungkin akan didatangi oleh da’i-da’i Syi’ah. Syaikh Mamduh Farhan al-Buhairi seoarang pakar tentang Aliran syi’ah juga berkata sebagai kata Pengantar untuk buku ini, “Ini (buku Lillahi Tsumma Li at-Tharikh) saya kirimkan kepada orang-orang yang masih berbaik sangka kepada Syi’ah dan yang menuntut agar menggauli mereka dengan baik dan lemah lembut, akibat kebodohan mereka terhadap al-Quraan dan sunnah Nabi SAW. Semoga mereka diberi petunjuk oleh Allah dan mempelajari Islam lebih dalam.”

    Selamat Membaca.

    ABU IQBAL

    Written by aferiza

    December 19, 2009 at 5:33 am

    Posted in Ilmu

    Di Kuantan..

    without comments

    Semalam kitaorang  baru sampai Kuantan…pendaftaran subject …dan kelas bermula hari nih….di UTM dan Tafseer hari rabu di UIA…tak hadir…dan akan hadir next week lah InsyaAllah!

    Nasib baik pendaftaran subject UTM boleh di lakukan melalui internet…apa ya subject kali nih…IT TRANSFORMATION FOR ORGANIZATION, INFORMATION AND KNOWLEDGE MANAGEMENT, SEMINAR ON DEVELOPMENT ON GLOBAL ISSUE  dan DISSERTATION….BISMILLAH!

    Written by aferiza

    December 19, 2009 at 4:32 am

    Posted in My Story, My Study

    Make the best out of this day

    without comments

    make-the-best-out-of-this-day

    Written by aferiza

    December 19, 2009 at 3:57 am

    Posted in Motivasi

    Renungan…

    without comments

    “Andai diri terasa lemah, bangunlah munajat pada Allah, dengan izinNya yang lemah dipandang gagah, yang sedih menjadi ceria, yang resah menjadi tenang. Sedikit pengorbanan, selamanya terasa.” …… “Adakala Dia memberi sebelum sempat kita menadah tangan, kerana Dia sangat mengerti keperluan hambaNya, adakalanya Dia mengambil semula sebelum sempat kita bersedia, Kerana Dia ingin menguji hamba2Nya.

    di petik dari : http://mujahid84.wordpress.com

    Written by aferiza

    December 18, 2009 at 11:46 am

    Posted in Renungan

    Taubat Nasuha

    without comments

    oleh: http://mujahid84.wordpress.com

    Taubat adalah kembali kepada Allah setelah melakukan maksiat. Taubat marupakan rahmat Allah yang diberikan kepada hamba-Nya agar mereka dapat kembali kepada-Nya.

    Agama Islam tidak memandang manusia bagaikan malaikat tanpa kesalahan dan dosa sebagaimana Islam tidak membiarkan manusia berputus asa dari ampunan Allah, betapa pun dosa yang telah diperbuat manusia. Bahkan Nabi Muhammad telah membenarkan hal ini dalam sebuah sabdanya yang berbunyi: “Setiap anak Adam pernah berbuat kesalahan/dosa dan sebaik-baik orang yang berbuat dosa adalah mereka yang bertaubat (dari kesalahan tersebut).”

    Di antara kita pernah berbuat kesalahan terhadap diri sendiri sebagaimana terhadap keluarga dan kerabat bahkan terhadap Allah. Dengan segala rahmatnya, Allah memberikan jalan kembali kepada ketaatan, ampunan dan rahmat-Nya dengan sifat-sifat-Nya yang Maha Penyayang dan Maha Penerima Taubat. Seperti diterangkan dalam surat Al Baqarah: 160 “Dan Akulah yang Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.”

    Taubat dari segala kesalahan tidaklah membuat seorang terhina di hadapan Tuhannya. Hal itu justeru akan menambah kecintaan dan kedekatan seorang hamba dengan Tuhannya karena sesungguhnya Allah sangat mencintai orang-orang yang bertaubat dan mensucikan diri. Sebagaimana firmanya dalam surat Al-Baqarah: 222, “Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang taubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri.”

    Taubat dalam Islam tidak mengenal perantara, bahkan pintunya selalu terbuka luas tanpa penghalang dan batas. Allah selalu menbentangkan tangan-Nya bagi hamba-hamba-Nya yang ingin kembali kepada-Nya. Seperti terungkap dalam hadis riwayat Imam Muslim dari Abu musa Al-Asy`ari:“SesungguhnyaAllah membentangkan tangan-Nya di siang hari untuk menerima taubat orang yang berbuat kesalahan pada malam hari sampai matahari terbit dari barat.”

    Merugilah orang-orang yang berputus asa dari rahmat Allah dan membiarkan dirinya terus-menerus melampai batas. Padahal, pintu taubat selalu terbuka dan sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya karena sesungguhnya Dialah yang Maha Pengampun lagi Maha penyayang.

    Tepatlah kiranya firman Allah dalam surat Ali Imran ayat: 133 , “Bersegaralah kepada ampunan dari tuhanmu dan kepada surga yangluasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa yaitu orang-orang yang menafkahkan hartanya baik di waktu lapang maupun sempit dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan kesalahan orang dan Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan. Dan juga orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampunan terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain daripada Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui.”

    Taubat yang tingkatannya paling tinggi di hadapan Allah adalah “Taubat Nasuha”, yaitu taubat yang murni. Sebagaimana dijelaskan dalam surat At-Tahrim: 66,“Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang semurni-murninya, mudah-mudahan Tuhan kamu akan menghapus kesalahan-kesalahanmu dan memasukkan kamu ke dalam sorga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, pada hari ketika Allah tidak menghinakan Nabi dan orang-orang yang beriman bresamanya, sedang cahaya mereka memancar di depan dan di sebelah kanan mereka, sambil mereka mengatakan ‘Ya Tuhan kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kamidan ampunilah kami, sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu’”.

    Taubat Nasuha adalah bertaubat dari dosa yang diperbuatnya saat ini dan menyesal atas dosa-dosa yang dilakukannya di masa lalu dan brejanji untuk tidak melakukannya lagi di masa mendatang. Apabila dosa atau kesalahan tersebut terhadap bani Adam (sesama manusia), maka caranya adalah dengan meminta maaf kepadanya. Rasulullah pernah ditanya oleh seorang sahabat, “Apakah penyesalan itu taubat?”, “Ya”, kata Rasulullah (H.R. Ibnu Majah). Amr bin Ala pernah mengatakan: “Taubat Nasuha adalah apabila kamu membenci perbuatan dosa sebagaimana kamu pernah mencintainya”.

    Written by aferiza

    December 18, 2009 at 11:44 am

    Posted in Solat, Tajdid Iman, Tasawuf

    Hijrah minda pupuk budaya hidup telus, elak rasuah

    without comments

    Oleh Abdul Razak Idris

    Ummah perlu teruskan perjuangan Rasulullah dengan melahirkan generasi baik sahsiah diri

    PERISTIWA hijrah Nabi Muhammad SAW kira-kira 1431 tahun lampau menjadi asas kepada pembinaan tamadun Madinah dan Islam secara khusus. Masyarakat madani yang dilaung-laungkan sebagai bersifat utopia oleh pemimpin dan pemikir Islam tidak berdiri tegap dan kukuh dengan sendiri tanpa Hijrah sebagai batu asasnya.

    Perjuangan Rasulullah Nabi Muhammad SAW di Makkah yang dikuasai kafir Quraisy dan penentangan puak kafir yang menolak mentah-mentah syiar Islam dihadapi Baginda dengan penuh tabah dan sabar sehingga Allah SWT memerintah berhijrah ke Madinah demi kesinambungan menegakkan akidah Islam.

    Sesungguhnya umat Islam perlu insaf bahawa agama Islam yang syumul perlu dijadikan cara hidup kerana perjuangan yang penuh dugaan dan pancaroba demi menyampaikan kalamullah perlu dihargai oleh setiap khalifah di muka bumi dengan penuh tertib dan takwa.

    Umat Islam di negara ini amat bertuah kerana dengan prasarana moden dan status negara kita sebagai negara Islam dan agama Islam sebagai agama rasmi, maka wajarlah kita bersyukur dengan kemudahan dianugerahkan Allah kepada kita.

    Kita ada masjid indah untuk beribadat. Setiap taman mempunyai surau yang mampu memuatkan jemaah untuk beribadat tidak kira dari parti politik manapun, di depan Allah semua sama cuma ketakwaan dan amal ibadah yang membezakan kita di sisi-Nya.

    Justeru, wajar kita memanjat rasa syukur kepada Ilahi kerana kepemimpinan negara sejak zaman selepas merdeka tidak mengabaikan pembangunan modal insan yang menitikberatkan pembentukan sahsiah dari segi keagamaan.

    Umat Islam wajar menggunakan sepenuhnya nikmat beribadat kepada Allah dengan mengunjungi masjid dan surau serta mengimarahnya. Jangan jadikan masjid semata-mata tempat untuk ‘berhijrah’ daripada masalah kewangan dan perasaan tidak keruan atau dijadikan mimbar politik memecah-belah perpaduan ummah. Read the rest of this entry »

    Written by aferiza

    December 18, 2009 at 11:29 am

    Posted in Ilmu, Tajdid Iman

    Rasulullah s.a.w Suami Contoh

    without comments

    Oleh Mohd. Azrul Azlen Abd. Hamid

    Kebahagiaan keluarga merupakan tunjang bagi kejayaan seseorang. Melalui keluarga akan nanti melahirkan ulama, cendiakawan, usahawan atau pimpinan yang unggul.

    Suami dalam keluarga memainkan peranan penting dalam memimpin seisi keluarga. Melalui kepimpinan suami itulah mempengaruhi kejayaan dan kebahagiaan sebuah keluarga.

    Bagaimanakah ciri-ciri suami yang berjaya?

    Bagi menjawab persoalan ini kita perlu menyelusuri sirah Rasulullah s.a.w. sebagai seorang suami yang berjaya malah Baginda mempunyai ciri-ciri suami idaman seluruh wanita.

    Ciri-ciri tersebut termasuk:

    1- Menyayangi isteri dengan sepenuh hati

    Rasulullah s.a.w. menyayangi Khadijah r.a. dengan sepenuh hati kerana isterinya merupakan satu nikmat Allah terbesar yang dikurniakan kepada Rasulullah s.a.w. Baginda amat menyayanginya kerana:

    Khadijah tinggal bersama Baginda selama suku abad dan mereka sama-sama merasai saat-saat suka duka.
    Dia membantu Baginda ketika suasana yang getir dan sukar.
    Dia sama-sama membantu Baginda menyebarkan risalah Allah.
    Dia menyertai Baginda dalam jihad menegak agama Allah.
    Dia mengorbankan kepentingan diri dan harta bendanya.
    Rasulullah s.a.w. bersabda: “Dia, Khadijah beriman denganku ketika orang ramai mengkufuriku, dia mempercayaiku ketika orang ramai mendustakanku, dia berkongsi denganku harta bendanya ketika orang ramai menghalangku.” (Riwayat Ahmad dalam Musnad Ahmad 6/118)

    2- Romantik

    Rasulullah s.a.w. juga merupakan seorang yang romantik. Bagaimana romantiknya Rasulullah?

    Tidur bersama isteri dalam satu selimut – Daripada Atha´ bin Yasar: “Sesungguhnya Rasulullah s.a.w. dan Aisyah r.a., selalu mandi bersama dalam satu bekas. Dan pernah suatu ketika Baginda tidur dengan Aisyah dalam satu selimut, tiba-tiba Aisyah bangun. Baginda kemudian bertanya, “Mengapa engkau bangun?” Jawab Aisyah, “Kerana saya haid wahai Rasulullah,” Sabda Rasulullah, “Kalau begitu, pergilah dan pakaikan kain dan dekatlah kembali kepadaku.” Aisyah pun masuk, lalu berselimut bersama Baginda.” (Riwayat Sa´id bin Manshur)
    Saling memakaikan wangian – Aisyah berkata: “Sesungguhnya Nabi s.a.w. apabila meminyakkan badannya, Baginda akan memulai dengan auratnya, menggunakan nurah (sejenis serbuk pewangi) dan isteri Baginda meminyakkan bahagian lain daripada tubuh Rasulullah s.a.w.” (Riwayat Ibnu Majah)

    Mandi bersama isteri – Daripada Aisyah r.a. beliau berkata, “Aku pernah mandi bersama Nabi s.a.w., menggunakan satu bekas. Kami bersama-sama memasukkan tangan kami (ke dalam bekas tersebut).” (Riwayat Abdurrazaq dan Ibnu Abu Syaibah)

    Minum menggunakan bekas yang sama – Daripada Aisyah r.a. dia berkata, “Saya pernah minum daripada cawan yang sama walaupun ketika haid. Nabi mengambil cawan tersebut dan meletakkan mulutnya di tempat saya meletakkan mulut, lalu Baginda minum. Kemudian saya mengambil cawan tersebut lalu menghirup airnya, kemudian Baginda mengambilnya daripada saya, lalu Baginda meletakkan mulutnya pada tempat saya letakkan mulut saya, lalu Baginda pun menghirupnya.” (Riwayat Abdurrazaq dan Sa´id bin Manshur)

    Membelai isteri – “Adalah Rasulullah s.a.w. tidaklah berlalu setiap hari melainkan Baginda mesti mengelilingi kami semua (isterinya) seorang demi seorang Baginda menghampiri dan membelai kami tetapi tidak bersama (bersetubuh) sehingga Baginda singgah ke tempat isteri yang menjadi giliran Baginda, lalu Baginda bermalam di sana.” (Riwayat Ahmad)
    Mencium isteri – Daripada Hafshah, puteri Umar r.ha. : “Sesungguhnya Rasulullah s.a.w. mencium isterinya sekalipun sedang berpuasa.” (Riwayat Ahmad)

    Berbaring di pangkuan isteri – Daripada Aisyah r.a., “Nabi s.a.w. meletakkan kepalanya di pangkuanku walaupun aku sedang haid, kemudian Baginda membaca al-Quran.” (Riwayat Abdurrazaq)

    Panggilan mesra – Rasulullah s.a.w. memanggil Aisyah dengan beberapa nama panggilan yang disukainya seperti Aisy dan Humaira` (si pipi merah delima).

    Menyejukkan kemarahan isteri dengan mesra – Nabi s.a.w. memicit hidung Aisyah r.ha. sekiranya dia marah dan Baginda berkata, “Wahai Uwaisy, bacalah doa: “Wahai Tuhanku, Tuhan Muhammad, ampunilah dosa-dosaku, hilangkanlah kekerasan hatiku dan lindungilah diriku daripada fitnah yang menyesatkan.” (Riwayat Ibnu Sunni)

    Memberi hadiah – Daripada Ummu Kaltsum binti Abu Salamah, dia berkata, “Ketika Nabi s.a.w. berkahwin dengan Ummu Salamah, Baginda bersabda kepadanya: “Sesungguhnya aku hendak memberikan hadiah kepada Raja Najasyi sepersalinan pakaian dan beberapa botol minyak kasturi, namun aku mengetahui bahawa Raja Najasyi telah meninggal dunia dan aku mengagak hadiah itu akan dikembalikan kepadaku, aku akan memberikannya kepadamu.” Dia (Ummu Kaltsum) berkata, “Benarlah keadaan Raja Najasyi seperti yang disabdakan Rasulullah s.a.w. dan hadiah tersebut dikembalikan kepada Baginda, lalu Baginda memberikan kepada isteri-isterinya sebotol minyak kasturi, manakala baki daripada minyak kasturi dan pakaian tersebut Baginda beri kepada Ummu Salamah.” (Riwayat Ahmad)

    3- Menghormati dan menjaga perasaan isteri

    Rasulullah s.a.w. merupakan seorang suami yang sentiasa menghormati dan menjaga perasaan isterinya. Suatu ketika, ketika Rasulullah hendak melaksanakan solat malam, Baginda mendekati isterinya Aisyah. Aisyah berkata: “Di tengah malam Baginda mendekatiku dan ketika kulitnya bersentuhan dengan kulitku Baginda berbisik, “Wahai Aisyah, izinkan aku untuk beribadah kepada Tuhanku.”

    4- Tidak berkasar dan berlemah lembut dengan isteri

    Berdasarkan sebuah hadis yang diriwayatkan dari Rasulullah s.a.w. bahawa pada suatu hari salah seorang isterinya datang dengan membawa makanan untuk dikirimkan kepada Rasulullah yang sedang berada di rumah Aisyah. Tiba-tiba Aisyah dengan sengajanya menjatuhkan makanan itu sehingga piring tersebut pecah dan makanannya jatuh berderai. Melihat sikap Aisyah tersebut, Rasulullah s.a.w. tidak berkasar dengan Aisyah sebaliknya dengan lemah lembutnya Baginda meminta Aisyah menggantikan makanan tersebut.

    5- Membantu isteri

    Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari, Aisyah r.ha. pernah ditanya seorang lelaki yang bernama Aswad tentang apa yang dilakukan oleh Rasulullah s.a.w. ketika berada di dalam rumahnya? Maka Aisyah menjawab: “Rasulullah s.a.w. sentiasa membantu ahli keluarganya melakukan kerja rumah. Dan apabila tiba masuk waktu solat, baginda keluar untuk solat.”

    Demikianlah beberapa contoh bagaimana Rasulullah s.a.w. menunjukkan akhlak yang sangat mulia. Kepulangan Rasulullah s.a.w. ke rumah bukan sekadar untuk beristirehat dan bermesra dengan ahli keluarganya sahaja. Bahkan, Baginda di rumahnya juga adalah untuk membantu isterinya menguruskan rumah tangga. Inilah yang Baginda lakukan walaupun mempunyai tugas dan tanggungjawab di luar rumah.

    Kesimpulannya, kita perlu mencontohi akhlak dan keperibadian Baginda tersebut. Sesibuk-sibuk kita, tidak seperti sibuknya Rasulullah s.a.w. Setinggi-tinggi pangkat kita di tempat kerja, tidaklah setinggi pangkat dan darjat Rasulullah s.a.w. Maka apakah yang menghalang kita daripada membantu meringankan tugas dan urusan isteri kita di rumah?

    Betapa besarnya pengorbanan Rasulullah s.a.w. sebagai seorang suami terhadap isterinya. Maka sebagai seorang suami, contohilah sikap Baginda ini ketika bermuamalah bersama isteri. Manakala buat para isteri, ingatkan suami anda tentang ciri-ciri suami idaman. Semoga berbahagia bersama pasangan anda!

    (Nurjeehan: Semoga bertemu cinta hakiki di-dunia & Insya Allah, biar sampai ke Jannatul Firdausi – “Ya Allah perindahkanlah akhlak ku seperti mana indahnya akhlak Rasulullah SAW, tenangkanlah hati ku bagai tenangnya air di tasik, dan serikanlah wajahku bagai bercahayanya bulan purnama di hari berserinya wajah orang-orang beriman…. Amin” )

    - Penulis adalah Pensyarah di UIAM berkelulusan Ijazah Sarjana Muda di Universiti Islam Antarabangsa (UIAM) & Ijazah Sarjana (MA) dalam Bahasa Arab juga di UIAM. Sedang menyambung pengajian peringkat PHD di Universiti Malaya (UM).

    Written by aferiza

    December 18, 2009 at 11:25 am

    Gubal undang-undang hukum pengamal sihir

    without comments

    Oleh Tuan Nazuri Tuan Ismail
    nazuri@bharian.com.my

    SHAH ALAM: Penggunaan ilmu hitam, termasuk bagi menundukkan suami atau isteri serta dalam aktiviti jenayah mendapat perhatian pakar agama yang menyarankan supaya undang-undang sihir diwujudkan untuk mencegah amalan itu berleluasa.

    Saranan itu dikemukakan pada Muzakarah Pakar: Bentuk Sihir Pengasih dan Metodologi Diagnosis anjuran Jabatan Mufti Selangor di sini, semalam.

    Pada sidang media selepas merasmikan muzakarah itu, Mufti Selangor, Datuk Mohd Tamyes Abdul Wahid, berkata undang-undang berkenaan boleh dimasukkan dalam Enakmen Jenayah Syariah bagi kesalahan yang dilakukan orang Islam dan bagi bukan Islam pula perlu diwujudkan akta baru.

    Beliau berkata, ketika ini pengamal dan pihak yang mengarahkan sihir itu dilakukan terlepas daripada hukuman kerana tiada peruntukan undang-undang berkaitan.

    “Ilmu sihir sukar dibuktikan di mahkamah kerana amalan ini abstrak dan tidak boleh dibuktikan oleh pancaindera. Sehubungan itu, pengamal undang-undang dan pihak berkuasa perlu memikirkan bentuk undang-undang yang sesuai untuk mendakwa pengamal ini di mahkamah,” katanya.

    Sehubungan itu, beliau berkata, hasil muzakarah itu akan dibawa ke Jawatankuasa Fatwa negeri untuk dibincang lebih lanjut sebelum dikemukakan kepada Jawatankuasa Muzakarah Fatwa Kebangsaan kerana membabitkan isu nasional.

    Ahli panel muzakarah itu, Datuk Dr Haron Din, pula berkata, peruntukan undang-undang bagi membanteras penggunaan sihir, terutama di kalangan orang Islam perlu diberi perhatian kerana wujud keadaan mendesak berdasarkan situasi semasa.

    Katanya, ilmu sihir digunakan secara meluas untuk aktiviti jenayah, termasuk pukau, rompak dan samun di beberapa kedai emas seperti dilaporkan sebelum ini.

    “Penjenayah dikatakan hanya menepuk belakang mangsa atau meniup asap rokok ke muka mangsa menyebabkan mangsa tidak sedar atau dipukau sebelum barang mereka dilarikan,” katanya.

    Katanya, walaupun ilmu sihir abstrak, pengamalnya mempunyai bilik khas dan menggunakan peralatan khusus untuk pemujaan seperti tengkorak haiwan dan senjata lama yang boleh dijadikan barang bukti. Read the rest of this entry »

    Written by aferiza

    December 17, 2009 at 12:23 am

    Pemberian mahar menandakan tanggungjawab suami

    without comments

    Oleh Nik Salida Suhaila Nik Saleh

    KADAR minimum mahar bagi orang kebanyakan (tidak termasuk puteri Sultan, kerabat dan orang besar) bernilai RM300 yang ditetapkan Jabatan Agama Islam Selangor (Jais) bagi setiap akad pernikahan bermula 2010 bukan satu beban kepada setiap ketua rumah tangga yang mampu menunaikan tanggungjawab sebagai suami.

    Seiring nilai mata wang yang bertambah besar dan keperluan menguruskan majlis akad, nilai itu masih dianggap rendah dan tidak menjadi sebab sesebuah perkahwinan tidak boleh didirikan. Malah, tidak pernah ada keluhan mengenai ketidakmampuan menyediakan mahar daripada pihak lelaki yang ingin berkahwin.

    Bebanan sebenarnya ialah wang dan barang hantaran, kos pelamin, bilik pengantin, persalinan, solekan, cenderahati untuk tetamu dan kenduri kahwin yang sering kali diadakan melampaui kemampuan sebenar.

    Hakikatnya, mahar tidaklah menjadi sumber kewangan bagi setiap isteri yang baru dikahwini untuk memulakan hidup berumahtangga kerana hikmah mahar adalah sebagai penghormatan terhadap wanita yang tidak boleh dimiliki sebagai isteri secara percuma.

    Sebab itu juga, jumlah mahar tidak semestinya lumayan tetapi sebaik-baiknya mesti dengan kadar yang mampu dan disenangi pihak yang memberi. Ia sekali gus menghapuskan adat jahiliah yang merendahkan golongan wanita dan betapa mereka boleh ‘dimiliki’ dan ‘dicerai’ sesuka hati tanpa perjanjian dan kerelaan kedua-dua belah pihak.

    Ia bukan juga jual beli barangan di pasar yang hanya mempunyai ‘tawaran’ dan ‘penerimaan’ seperti didakwa oleh pejuang hak wanita Barat, sebaliknya simbolik penyerahan tugas dan tanggungjawab daripada wali wanita kepada bakal suami yang dikahwini melalui waad berserta saksi dan lafaz ijab dan qabul yang jelas.

    Mahar juga sebagai tanda kesanggupan bakal suami untuk memikul tanggungjawab membina rumah tangga dan persiapan awal pemberian nafkah zahir serta kewajipan yang wajib dilakukan bermula saat pertama diijabkabulkan. Hikmah pemberian daripada pihak lelaki ialah supaya kita memahami bahawa suamilah yang diperintahkan untuk menyediakan segala keperluan kepada si isteri, bukan sebaliknya. Read the rest of this entry »

    Written by aferiza

    December 17, 2009 at 12:20 am

    Posted in Perkahwinan, Syariat

    Yusuf al-Qaradawi ulama kontemporari abad ini

    without comments

    Oleh Mohd Rumaizuddin Ghazali

    YUSUF al-Qaradawi adalah ulama, pemikir, sarjana dan intelek kontemporari pada abad ini. Dilahirkan di Mahallah al-Kubra negeri Gharbiah, Mesir pada 1926. Sejak kecil, pemikir ini menunjukkan ciri ulama apabila menghafal al-Quran sejak kecil dan sering dipanggil menjadi imam dan menyampaikan syarahan agama di masjid kampungnya.

    Selepas tamat Maahad Tanta, beliau melanjutkan pelajaran di Universiti al-Azhar sehingga ke peringkat Doktor Falsafah (PhD) dalam fiqh al-Zakat pada 1973. Al-Qaradawi terpengaruh dengan pemikiran Imam al-Ghazali, Ibn Taimiyyah dan Ibn Qayyim. Dalam kebanyakan penulisannya, al-Qaradawi sering mengambil pendapat tiga tokoh berkenaan.

    Ketika awal kehidupannya, beliau begitu mengagumi Imam al-Ghazali dan kitab `al-Ihya` adalah buku pertama yang dibaca. Kemudian beliau membaca buku Ibn Taimiyyah dan Ibn Qayyim, walaupun mengagumi kedua-dua tokoh itu, ia tidak menghalang beliau untuk berbeza pendapat sesetengah isu.

    Al-Qaradawi terkenal dengan keperibadian sederhana dan sentiasa menyeru kepada kesederhanaan dalam segala aspek. Manhaj (kaedah) beliau adalah kemudahan dalam memberi fatwa, memberi khabar gembira dalam berdakwah, tegas dalam persoalan pokok dan mudah dalam perkara cabang.

    Beliau menyebutkan faedah yang diperoleh apabila terbabit dalam aktiviti dan pergerakan dakwah iaitu pergerakan dakwah memperluaskan cakerawala fikirannya dalam memahami Islam secara mantap; memahami kewajipan amal jariah; berpindah dari hanya seorang penceramah agama di kampung menjadi seorang pendakwah Islam yang bekerja untuk umat; mengubah daripada cita-cita tempatan dan terbatas pada cita-cita besar dan universal.

    Keinginannya tidak lagi tergantung kepada keinginan peribadi tapi menjadi cita-cita yang berkait rapat dengan umat. Sekiranya cita-cita umat itu untuk membebaskan Palestin maka itulah cita-citanya. Muhammad al-Ghazali menyifatkan al-Qaradawi sebagai seorang yang menggabungkan antara feqah teori dengan realiti.

    Menurut al-Nadwi, al-Qaradawi adalah ulama lulusan al-Azhar yang bergiat dalam bidang dakwah dengan menggabungkan aspek kefahaman Islam sebenar dengan realiti dunia semasa. Al-Qaradawi pertama kali datang ke Malaysia pada 1974. Dalam lawatan itu, beliau melawat pejabat Angkatan Belia Islam Malaysia (Abim) dan sejak itu, hubungannya begitu rapat dengan aktivis dakwah di Malaysia.

    Pada 1985, al-Qaradawi menyampaikan ceramahnya di Yayasan Anda dan menekankan sikap kesederhanaan yang perlu diambil pendakwah. Antara sumbangan besar al-Qaradawi kepada masyarakat Islam di Malaysia ialah keprihatinannya kepada manhaj kesederhanaan dalam berdakwah.

    Di samping itu, beliau sentiasa optimis terhadap sistem kewangan Islam dan pendapatnya mengenai kewangan Islam dijadikan rujukan pakar ekonomi di sini. Al-Qaradawi juga menyarankan agar feqah digunakan dalam khidmat dakwah kepada Islam. Beliau menyeru ulama supaya menguasai ilmu sehingga mencapai darjat yang membolehkan mereka membuat tarjih di antara pendapat ulama.

    Al-Qaradawi mengingkari golongan yang ingin menghapuskan khilaf dan menghimpunkan orang ramai dalam satu pendapat iaitu dengan mengikut pendapat mereka semata-mata.

    Percubaan kumpulan ini akan menambahkan lagi khilaf dan bukan mengurangkannya. Begitu juga beliau mengingkari golongan yang suka menyibuk dalam perkara khilaf yang remeh.

    Oleh itu, kepentingan feqah dalam dakwah mesti diasaskan dengan kebijaksanaan, toleransi, perikemanusiaan dan keadaan masyarakat. Beliau menggariskan beberapa jenis kefahaman sebagai usaha untuk memahami konteks dakwah yang sebenar seperti kefahaman mengenai keutamaan (fiqh al-awlawiyyat); kefahaman pertimbangan (fiqh al-Muwazanat); kefahaman mengenai realiti (fiqh al-Waqi’) dan kefahaman mengenai perubahan (fiqh al-Taghayyir).

    Ketika mengeluarkan pendapat dan fatwa, al-Qaradawi memilih pendapat yang kuat alasannya dan mudah kepada orang ramai. Beliau menyatakan bahawa perselisihan pendapat harus dilihat dari segi positif dan ia tidak harus dilihat sebagai keretakan dan perpecahan kepada umat Islam yang sudah sekian lama hidup berpecah belah.

    Written by aferiza

    December 17, 2009 at 12:16 am

    Posted in Ilmu, Personaliti, dakwah

    tazkirah hari ini

    without comments

    dari : http://farishaudad.wordpress.com

    Manusia terbaik antara kita

    Daripada Utsman Bin Affan r.a., sesungguhnya Rasulullah s.a.w. bersabda, “Orang yang terbaik di antara kamu adalah orang yang belajar Al-Quran dan mengajarkannya.” (Riwayat Tirmizi, hassan sahih)

    Jadilah tanah yang subur

    Daripada Abu Musa r.a. daripada Nabi s.a.w., beliau bersabda, “Perumpamaan petunjuk dan ilmu yang Allah mengutus aku untuk menyampaikannya adalah seperti hujan jatuh ke bumi. “Sebahagian dari bumi itu ada yang subur menyerap air, menumbuh-suburkan tanam-tanaman, dan rumput-rumput yang banyak. Ada pula tanah yang keras, tidak dapat menyerap air sehingga tergenang. Maka dengannya Allah memberi manfaat kepada manusia. Mereka dapat minum darinya dan memberi minum (binatang ternak dan sebagainya) dan untuk bercucuk tanam. Dan ada pula hujan yang jatuh ke bahagian lain, iaitu di atas tanah (berlapis batu) yang tidak menggenang air dan tidak pula menumbuhkan rumput.” “Begitulah perumpamaan orang yang belajar agama (menuntut ilmu), yang mahu memanfaatkan apa yang aku disuruh Allah menyampaikannya, iaitu ia mempelajari dan mengajarkannya dan begitu pula perumpaan orang yang tidak mahu memikirkan dan tidak mahu menerima petunjuk Allah yang aku diutus untuk menyampaikannya.” (Riwayat Bukhari)

    Hilangnya ilmu

    Daripada Abdullah bin ‘Amr bin al-’Ash radhiallahu ‘anhuma, katanya: “Saya mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda: “Sesungguhnya Allah itu tidak mencabut ilmu pengetahuan dengan sekaligus, tetapi Allah mencabut ruhnya para ulama, sehingga apabila tiada lagi seorang alim pun, maka orang ramai akan mengangkat para pemimpin yang bodoh. Mereka apabila ditanya, memberikan keterangan fatwa dengan tanpa menggunakan dasar ilmu pengetahuan. Maka akhirnya mereka itu semuanya sesat dan pula menyesatkan.” (Muttafaq ‘alaih)

    Akan sampai jua

    Daripada Abu Hurairah r.a. pula, katanya: “Rasulullah s.a.w. bersabda: “Janganlah engkau semua membuat kuburku itu sebagai hari raya (yakni untuk tempat berkumpul-kumpul guna bersenang-senang). Bacalah salawat padaku karena sesungguhnya bacaan salawatmu semua itu dapat sampai padaku, di mana saja engkau semua berada.” (Diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dengan isnad shahih.)

    Daripada Abu Hurairah r.a. pula bahwasanya Rasulullah s.a.w. bersabda: “Tiada seorangpun yang memberi salam padaku, melainkan Allah mengembalikan ruhku, sehingga saya dapat rnenjawab salam orang itu.” (Diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dengan isnad shahih.)

    Written by aferiza

    December 17, 2009 at 12:10 am

    Posted in Tazkirah